Masakan Instan dan Keberhasilan

Jaman sekarang cara-cara meraih sukses dan keberhasilan justru ditempuh dengan jalan "instan," seperti memasak atau menyeduh mie instan yang serba cepat dan mudah. Ketika semua keberhasilan dan kesuksesan yang didapat hanya dengan cara "siap saji," secara hakiki orang itu sebenarnya tidak pernah berhasil dalam hidupnya.Tapi itulah realitasnya! Dan anehnya justru mereka merasa dirinya sebagai profesional.


Bagaimana mungkin di jaman sekarang ini, yang semuanya serba instan bisa melahirkan Einstein-Enstein baru? Sedangkan Albert Enstein sendiri menemukan teori keilmuannya dengan jerih payah, yaitu: melakukan dan melewati percobaan atau eksperimen yang berulang-ulang kali. Keberhasilan Albert Enstein bukan dengan cara membaca mantra, yaitu: Bim salabim, Abracadabra ala pesulap, ha..ha. Hasil penemuannya juga tidak datang dengan cara tiba-tiba ataupun sekejap mata.


Hai friends, tahu tidak kenapa karya film-film Hollywood selalu meledak dan langganan "box office" seperti halnya: Avatar, Jurrasic Park, Harry Potter, Pirates of the Carribean? Kesuksesan karya-karya yang "dahsyat" merupakan hasil kerja keras dan totalitas, tidak seperti menggoreng tempe, sreeng...sreeng, siap dihidangkan. :)


Pembuatan film Hollywood memakan waktu bertahun-tahun. Coba bandingkan dengan pengerjaan film karya anak negeri yang dibikin demi kebutuhan paket "kejar tayang," kekek...kekek. Tak dapat dipungkiri, mutu dan kualitas film antara keduanya sangat jauh berbeda bagaikan "bumi dan langit." Pandangan lewat tulisan ini bukan sikap "pesimistis" akan kapasitas dari anak negeri, akan tetapi sebaliknya justru sebagai "kaca cermin'' untuk berbenah saat atau dalam berkarya. Bukan hanya asal bikin dan buat, lalu di lempar ke pasaran demi pundi-pundi uang. Meskipun film dibuat demi tujuan komersil atau komoditas akan tetapi film-film Hollywood tetap menjaga mutu dan kualitas karyanya. Ya ini friends, yang menjadikan beda!


Totalitas adalah "kata kuncinya" bila kalian semua ingin berhasil dengan disiplin dan mutu keilmuan yang tinggi.


Sangat disayangkan,justru generasi sekarang ini lebih memilih kesuksesan atau keberhasilan seperti "goreng tempe," ataupun "memasak mie instan." Kesuksesan dan keberhasilan yang diraih dengan cara promosi, "publikasi periklanan", dan lobi-lobian, sejatinya adalah kesuksesan abal-abal atau KW-KW-an. Apakah kalian tidak malu bila diteriaki dan disoraki, "huuuu..huuuu"? Jika ternyata kesuksesan yang diraih hasil dari "masakan" atau olahan media periklanan. "Media publikasi memang bisa meroketkan popularitas seseorang setinggi langit. Popularitas yang semata atau murni hasil olahan media periklanan akan mudah lenyap, karena seseorang itu tidak memiliki bobot keilmuan yang memadai."


Girls, ayo-ayo! Saatnya mengasah bakat, potensi dan menimba ilmu pengetahuan dengan kesungguhan, tekun dan fokus, serta pantang menyerah. Bila diumpamakan, kalian harus berenang dan menyelam untuk mengarungi keluasan keilmuan dan potensi atau bakat yang ada pada diri. Tidak hanya sebatas melihat di tepian atau hanya menyentuh airnya. Dengan kata lain, bila ingin menjadi orang yang memiliki bobot, mutu dan kualitas, bila menekuni atau belajar apapun itu jangan pernah setengah-setengah.


Kawan, bila kalian punya bakat bermusik jadilah pemusik handal. Apabila jadi dokter jadilah dokter yang profesional, dan jika ingin jadi olahragawan jadilah sang juaranya. "Dunia hanya milik orang-orang pandai, bermutu, dan berkualitas. Orang-orang "besar" karena hasil masakan atau olahan periklanan dan lobi-lobi tidak akan pernah bisa bertahan lama.

Artikel TIPS